Pertanyaan

Selamat pagi, saya punya kakak ipar. Beliau ditusuk pakai pisau oleh seseorang hingga menyebabkan dua luka pada tulang belikat dan satu lagi hampir tembus ke depan dada. Kemudian beliau menghajar si penusuk hingga kepala bagian belakang membentur batu dan menyebabkan si penusuk meninggal dunia. Kemudian kakak ipar saya dirawat hanya 2 hari di rumah sakit lalu dijemput polisi dan dimasukkan ke dalam sel. Pertanyaan saya, bagaimana ketentuan hukumnya karena pada awal kakak saya menjadi korban kemudian bisa jadi tersangka?

NB: sekarang dengan keluarga yang meninggal sudah berdamai. Terima kasih atas jawabannya.

JONANG

 

Jawaban

TRI JATA AYU PRAMESTI, S.H.

Terima kasih atas pertanyaan Anda.

Dalam hal kakak ipar Anda ditusuk dengan menggunakan pisau oleh seseorang, maka terlepas dari orang tersebut telah meninggal dunia, pada dasarnya orang yang menusuknya itu telah melakukan tindak pidana.

Kami kurang mendapat informasi yang jelas, apakah penusukan tersebut adalah memang dengan niat untuk menghilangkan nyawa kakak ipar Anda atau sekedar ingin menyakiti/menganiaya.

Jika memang dilakukan dengan niat untuk menghilangkan nyawa kakak ipar Anda, maka orang tersebut melakukan tindak pidana pembunuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 338 – Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”).

Karena kakak ipar Anda tidak sampai terbunuh, maka tindakan yang dilakukan oleh orang tersebut dikatakan sebagai percobaan pembunuhan (Pasal 53 ayat (1) KUHP mengenai percobaan tindak pidana). Mengenai percobaan tindak pidana dapat Anda baca dalam artikel Belum Selesai Melakukan Tindak Pidana, Bisakah Dihukum?

Akan tetapi, jika orang tersebut hanya ingin membuat kakak ipar Anda merasakan rasa sakit atau hanya ingin menganiaya kakak ipar Anda, maka orang tersebut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yang diatur dalam Pasal 351 – Pasal 358 (“KUHP”).

Hukuman dari tindak pidana penganiayaan bergantung pada akibat yang ditimbulkannya, yakni apakah luka berat atau ringan. Selain itu, pemidanaan dalam pasal-pasal tersebut juga bergantung pada sengaja atau tidak dilakukannya penganiayaan itu.

Lebih lanjut mengenai penganiayaan, Anda dapat membaca artikel Perbuatan-perbuatan yang Termasuk Penganiayaan dan Batasan Penganiayaan Ringan.

Kemudian Anda mengatakan bahwa penusuk telah meninggal dunia. Akibat dari meninggalnya orang tersebut adalah kewenangan menuntut pidana menjadi hapus.

Hal ini sebagaimana disebut dalam Pasal 77 KUHP. Terkait dengan pasal ini,R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 91) mengatakan bahwa dalam pasal ini terletak suatu prinsip bahwa penuntutan hukuman itu harus ditujukan kepada diri pribadi orang. Jika orang yang dituduh telah melakukan peristiwa pidana itu meninggal dunia, maka tuntutan atas peristiwa itu habis begitu saja, artinya tidak dapat tuntutan itu lalu diarahkan kepada ahli warisnya.

Sebagai informasi, tindakan yang dilakukan kakak ipar Anda bisa dikatakan sebagai tindak pidana yang dapat dihukum, tetapi dapat juga tidak dapat dihukum dengan alasan pemaaf.

Sama seperti uraian di atas, tindakan yang dilakukan oleh kakak ipar Anda dapat dikategorikan sebagai tindak pidana pembunuhan jika memang maksud dari dilakukannya tindakan tersebut adalah untuk menghilangkan nyawa si orang tersebut, akan tetapi bisa juga dikategorikan sebagai tindak pidana penganiayaan jika maksudnya hanya untuk memberikan rasa sakit.

Tetapi bisa juga tindakan yang dilakukan oleh kakak ipar Anda tidak dihukum dengan alasan pemaaf. Sebagaimana pernah dijelaskan dalam artikel Kenapa Orang yang Membunuh Karena Membela Diri Tetap Ditahan Polisi?, dalam ilmu hukum pidana dikenal alasan penghapus pidana yaitu alasan pembenar dan alasan pemaaf:

a.    Alasan pembenar berarti alasan yang menghapus sifat melawan hukum suatu tindak pidana. Jadi, dalam alasan pembenar dilihat dari sisi perbuatannya (objektif). Misalnya, tindakan ‘pencabutan nyawa’ yang dilakukan eksekutor penembak mati terhadap terpidana mati (Pasal 50 KUHP);

b.    Alasan pemaaf adalah alasan yang menghapus kesalahan dari si pelaku suatu tindak pidana, sedangkan perbuatannya tetap melawan hukum. Jadi, dalam alasan pemaaf dilihat dari sisi orang/pelakunya (subjektif). Misalnya, lantaran pelakunya tak waras atau gila sehingga tak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya itu (Pasal 44 KUHP).

Perbuatan kakak ipar Anda dapat dikatakan sebagai pembelaaan darurat (alasan pembenar) sebagaimana diatur dalam Pasal 49 ayat (1) KUHP jika memenuhi syarat-syarat dalam pasal tersebut.

Mengenai Pasal 49 ayat (1) KUHP, R. Soesilo berkomentar antara lain bahwa supaya orang dapat mengatakan dirinya dalam “pembelaaan darurat” dan tidak dapat dihukum harus dipenuhi tiga syarat (hal. 64-66):

(1) Perbuatan yang dilakukan itu harus terpaksa dilakukan untuk mempertahankan (membela). Pertahanan itu harus amat perlu, boleh dikatakan tidak ada jalan lain. Di sini harus ada keseimbangan yang tertentu antara pembelaan yang dilakukan dengan serangannya. Untuk membela kepentingan yang tidak berarti misalnya, orang tidak boleh membunuh atau melukai orang lain.

(2) Pembelaan atau pertahanan itu harus dilakukan hanya terhadap kepentingan-kepentingan yang disebut dalam pasal itu yaitu badan, kehormatan dan barang diri sendiri atau orang lain.

(3) Harus ada serangan yang melawan hak dan mengancam dengan sekonyong-konyong atau pada ketika itu juga.

Mengenai kakak ipar Anda dari korban menjadi tersangka, pada dasarnya semua orang yang melakukan tindak pidana dapat menjadi tersangka. Pada prinsipnya, hukum pidana adalah untuk mencari kebenaran materiil yaitu kebenaran yang sesungguhnya mengenai siapa pelaku tindak pidana yang sesungguhnya yang seharusnya dituntut dan didakwa. Oleh karena itu, perihal apakah nantinya kakak ipar Anda akan dihukum atau tidak, semua bergantung pada bukti-bukti yang ada di persidangan dan keyakinan hakim.

Hal lain yang perlu dibahas adalah Anda mengatakan bahwa kakak ipar Anda sudah berdamai dengan keluarga penusuk (korban). Penganiayaan adalah delik laporan (delik biasa) dan bukan delik aduan. Dalam delik laporan, walaupun pihak korban sudah memaafkan pelaku, proses hukum akan tetap dijalankan. Artinya, setelah dilakukannya tindakan pelaporan kepada polisi, maka laporan tersebut tidak dapat ditarik kembali. Oleh karena itu, tuntutan pidana terhadap kakak ipar Anda tetap diproses.

Namun demikian, perdamaian antara kakak ipar Anda sebagai pelaku dengan keluarga korban dapat menjadi bahan pertimbangan bagi hakim untuk meringankan hukumannya. Sebaliknya, tidak adanya perdamaian antara pelaku dengan keluarga korban bisa menjadi hal yang memberatkan kakak ipar Anda. Hal ini pernah dijelaskan dalam artikel Perbedaan Pengaduan dengan Pelaporan dan Apakah Perdamaian dalam Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Menggugurkan Tuntutan?

Demikian jawaban dari kami. Semoga bermanfaat.
Dasar hukum:

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Referensi:

R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia: Bogor.

About Administrator Law

FW Law firm offers integrated legal services to individual and corporate client.

Comments are closed.